Terkini

Ilmu Komunikasi yang Interdisipliner


Pemahaman akan sifat ilmu komunikasi yang interdisipliner atau multidisipliner, umumnya telah disampaikan kepada para mahasiswa semester awal. Di antara buku pegangan yang cukup popular era 1980-an adalah karangan Onong Uchjana Effendy berjudul “Ilmu komunikasi: Teori dan Praktek”.

Buku ini terbit pertama 1984 dan terus mengalami cetak ulang beberapa kali. Prof Onong merupakan guru besar madya di Fakultas Ilmu komunikasi Universitas Padjajaran yang ditetapkan pada Oktober 1989.

Buku ini dibuka dengan pembahasan yang mengurai asal muasal “komunikasi” yang akhirnya dianggap sebagai suatu ilmu. Pada masanya, komunikasi baru dianggap sebatas “pengetahuan” belum sebagai “ilmu pengetahuan”.

Perkembangan berikutnya membawa kenyataan bahwa begitu kompleks bidang yang terkait dengan komunikasi, sehingga konsep dan teori terus berkembang. Termasuk mendudukan Ilmu komunikasi dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial, yang juga sekaligus menjadikan Ilmu komunikasi sebagai ilmu terapan (applied science).

Itu sebabnya, Ilmu komunikasi memiliki sifat interdisipliner atau multidisipliner. Menurut Onong, sifat tersebut karena objek material ilmu ini sama dengan ilmu-ilmu lainnya, terutama yang termasuk ke dalam ilmu sosial atau ilmu kemasyarakatan.

Dari berbagai bahasan, Onong kemudian menyusun sejumlah ikhtisar lingkup ilmu komunikasi, di antaranya diitinjau dari komponennya yang mencakup: komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek.

Sementara untuk metode komunikasi, dibagi dalam delapan bidang: jurnalistik (journalism), hubungan masyarakat (public relations), periklanan (adversiting), pameran (exhibition/exposition), publisitas (publicity), propaganda, perang urat syaraf (psychological warfare), dan penerangan.

Dari aspek pengertiannya, istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicato, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya adalah sama makna (halaman 9).

Penjelasan itu untuk menerangkan bahwa dalam proses komunikasi yang efektif, apa yang dimaksudkan oleh komunikator dalam pesannya, ditangkap dalam makna yang sama oleh komunikan. Bagaimana kalau tidak sama?

Maka terjadilah masalah, dan ini bisa ditelisik secara lebih luas dan mungkin juga rumit, sebab banyak komponen terlibat. Mulai dari cara komunikator mengemas pesan, media yang digunakan, pengetahuan dan wawasan komunikator maupun komunikan.

Era Kekinian
Buku karangan Onong ini ada dalam fasenya sendiri, ketika internet masih belum menjadi primadona saluran komunikasi seperti terjadi para era milenial ini. Maka pembahasan dalam buku ini juga belum mencakup peran internet yang ternyata banyak mengambil alih cara-cara orang berkomunikasi.

Tetapi, buku ini menjadi peletak dasar untuk memahami ilmu komunikasi di Indonesia, yang kala itu masih merupakan pendatang baru di jagad ilmu pengetahuan sosial. Apakah buku ini bisa dianggap sebagai buku klasik bagi ilmu komunikasi? Bisa jadi.

Para mahasiswa, dosen, praktisi komunikasi, bahkan kalangan umum yang memiliki ketertarikan di bidang ini, tetap bisa menjadikannya sebagai referensi, atau minimal bahan bacaan. Agar hal ihwal komukasi bisa dipahami secara benar, baik konsep maupun praksisnya.

Era milenial yang didominasi peran internet, misalnya (sekali lagi, meskipun belum terjangkau oleh bahasan dalam buku ini), telah menujukkan kepada kita semua, betapa bidang komunikasi telah banyak mengubah wajah dunia. Ambil satu contoh dengan maraknya kabar bohong atau hoax.

Mengapa hoax bisa terjadi? Pasti karena ada masalah besar dalam keseluruhan proses komunikasi. Dalam kasus hoax, komunikator (entah siapapun dia) memahami betul kelemahan komunikan era kekinian yang lemah dalam hal wawasan dan pengetahuan. Maka, apapun informasi yang muncul, serta merta dianggap kebenaran.   

Maka, meski buku ini jadul, rasa-rasanya cukup kuat alasan untuk tetap menjadikannya pegangan untuk menyimbangkan pengetahuan semua orang tentang proses komunikasi yang hakiki. (SvE)

0 komentar:

Post a Comment