Kerinduanku dengan suasana alam yang ralatif masih asli dan asri, terobati akhir pekan lalu. Saya bersama rekan redaktur Tribun Pontianak, Stef Akim, dan seorang wartawan Borneo Tribune, Hentakun, berkunjung ke Bukit Tunggal, Kecamatan Sungai Ambawang, Sabtu (3/7/10).
Rencana ini sudah muncul sejak lama, sebagai penyeling di tengah rutinitas pekerjaan yang padat. Dengan bantuan Hendrikus Adam, aktivis Walhi Kalbar, kami bisa berkunjung ke areal lebih dari 90 hektare milik Ordo Kapusin Kalbar itu. Jarak tempuhnya 69 kilometer dari Kota Pontianak.
Di sana, kami menjumpai seoran pastor yang hidup sederhana di tengah hutan, Benedictus Likoy OFM Cap. Pastor (dalam foto, berjalan paling depan) mengajak kami mengitari hutan itu, menyusuri Jembatan Pelangi yang membelah hutan, dilanjutkan menyusuri jalan sertapak sekira 2 kilometer panjangnya.
Kami ngos-ngosan, karena memang jarang berolahraga. Sementara pastor berusia 57 tahun itu tetap berdemangat menjelaskan aneka pepohonan dan tumbuhan hutan, tanpa lelah.
Kami pun menikmati suasana malam yang indah dengan orkes alam dari suara serangga hutan. Diesel sebagai penerang, hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 11 malam.
Selebihnya hanya gelap yang menyergap di tengah sunyinya rimbaraya, mengiring lelap yang membuai ke alam mimpi. Versi panjang cerita ini silakan ikuti di link ini.

1 komentar:
mana link nya mgr?
Post a Comment